Logo

Direktorat Pakan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian Indonesia

 
MERAMU BY PRODUCT COKLAT (KBK)
Juma'at, 16 Januari 2015
   

MERAMU BY PRODUCT COKLAT (KBK)

UNTUK RUMINANSIA

 

Wisri Puastuti

Balai Penelitian Ternak, Ciawi Bogor

 

Tanaman kakao atau coklat tersebar luas hampir di seluruh provinsi di Indonesia, kecuali DKI Jakarta.  Perkebunan kakao sebagian besar diusahakan oleh rakyat hingga mencapai 94% dari luas lahan perkebunan kakao 1.745.789 ha dengan produksi mencapai 91% dari total produksi 903.092 kg biji kakao kering pada tahun 2011. Perbandingan proporsi kulit buah kakao (KBK), biji kakao dan plasenta/selaput  adalah 74% : 24% : 2%. Dengan demikian produksi KBK sangat berlimpah namun belum banyak dimanfaatkan. Pemanfaatan KBK sebagai bahan bakar, pupuk masih terbatas sebaliknya sebagian besar dibiarkan menumpuk dan membusuk di areal perkebunan. Cara ini seringkali memicu berkembangnya mikroorganisme yang dapat menjadi hama dan penyakit tumbuhnya jamur dan bakteri yang dapat menyerang tanaman dan buah kakao, seperti cendawan mikotoksin Phytopthora palmivora (Butler). Oleh karena itu, sebaiknya pemanfaatan KBK dilakukan dengan cara yang benar.

Penggunaan KBK sebagai pakan hanya terbatas pada musim panen yang diberikan dalam bentuk segar (dicacah). Bila dilihat dari sisi nutriennya, KBK sangat potensial sebagai pakan untuk menggantikan rumput, dengan komposisi nutrien KBK terdiri dari 19,0% bahan kering, 7,5% protein dan 3994 Kkal/kg energi bruto.  Palatabilitas KBK segar cukup tinggi dengan adanya rasa manis dari selaput/pasenta yang melekat pada bagian dalam KBK. Namun ada kekhawatiran dari sebagian masyarakat karena ada senyawa pembatas pada KBK antara lain kandungan lignin, tanin dan theobromine. Kandungan lignin dan tanin dari KBK sebesar 23,65% dan 0,84% (Rinduwati dan Ismartoyo, 2002) sedangkan kandungan theobromine sebesar 0,55% (Hartati, 2012). Lignin tidak mampu dicerna sehingga dapat membatasi ketersediaan nutrien KBK, sementara tanin keberadaannya mengikat protein dan karbohidrat sehingga dapat menurunkan kecernaan protein dan karbohidrat. Pada taraf tertentu theobromine dapat mengganggu metabolisme dan fungsi fisiologis dalam tubuh. Dengan kadar air yang tinggi (±80%) menjadikan KBK tidak tahan lama, mudah ditumbuhi jamur dan selanjutnya membusuk jika sudah dipisahkan dari bijinya selama lebih dari 3 hari (Gambar 1, 2). Untuk meningkatkan kecernaan, mengurangi efek negatif dari senyawa antinutrisi sekaligus memperpanjang masa simpan maka pengolahan terhadap KBK perlu dilakukan.

 

 Metode pengolahan KBK sebagai pakan

Metode pengolahan KBK sudah banyak dilaporkan, baik secara fisik/mekanik, kimiawi biologis maupun kombinasinya. Pengolahan secara fisik dapat dilakukan dengan cara mencacah baik secara manual atau mesin untuk diberikan secara segar. Pencacahan KBK yang dilanjutkan dengan mengeringkan dan menggiling menghasilkan bentuk tepung/mash. Bentuk tepung (kadar air <12%) dari KBK memiliki daya simpan yang lebih panjang dan memudahkan dalam penanganan. Pengolahan secara kimiawi dengan penambahan alkali, asam atau basa. Pengolahan secara biologis dilakukan melalui proses fermentasi dengan penambahan starter mikroba atau memanfaatkan mikroba indogenous dengan menambahkan imbuhan yang memacu pertumbuhannya. Pengolahan menggunakan kapang dalam proses fermentasi KBK antara lain Aspergillus niger, Rhizopus oligosporus dan Trichoderma reseei, Aspergillus oryzae, Rhizopus stolonifer (Saili et al., 2011, Lateef et al, 2008. Fermentasi  secara nyata dapat meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaan serat KBK sebesar 30% dan kadar protein 83%.

Pengolahan dengan memanfaatkan mikroba indogenous melalui proses silase diyakini mampu mempertahankan kandungan nutrisi dengan adanya bakteri pembentuk asam laktat yang mamou menurunkan pH hingga 4–6. Menurunnya pH KBK yang disilase dapat memperpanjang masa simpan. Pengolahan KBK dengan teknik silase dengan imbuhan dedak padi mampu meningkatkan palatabilitas dan daya simpan hingga >3 bulan (Puastuti et al., 2011). Disamping itu proses fermentasi dapat menurunkan kadar theobromine hingga 54,7% oleh mikroba indegenous dari KBK dan 71,8% oleh Aspergillus niger setelah 7 hari inkubasi (Adamafio et al., 2011).

Meramu by product coklat(KBK)sebagai pakan

   Dalam aplikasi di tingkat peternak, keterbatasan dan kesulitan memperoleh inokulan untuk memfermentasi KBK menjadi kendala karena tidak tersedia di lokasi setempat. Teknologi pengolahan KBK yang sederhana akan membantu percepatan adopsi bagi peternak skala kecil hingga menengah, tanpa mengurangi alokasi waktu untuk bercocok tanam, namun menjadi solusi bagi usaha peternakan maupun perkebunan kakao. Pengolahan KBK dengan cara dibuat silase mudah dilakukan. KBK yang disilase memiliki masa simpan yang lama sehingga dapat dimanfaatkan pada saat tidak musim panen buah kakao. Pengolahan dengan tambahan dedak padi pada proses ensilase KBK memanfaatkan mikroba indogenous.

Tahapan pembuatan silase KBK dengan cara sebagai berikut: 1) Mencacah KBK segar dengan ukuran 1-2 cm; 2) Menambahkan dedak padi sebanyak 5-10%; 3) Mencampur KBK cacah dengan dedak padi hingga rata; 4) Menyimpan dalam kantong plastik pada keadaan anaerob (tertutup rapat); 5) Penyimpanan pada temperatur ruang selama 21 hari atau 3 minggu; 6) Setelah 21 hari silase KBK siap diberikan pada ternak dalam keadaan segar (Gaambar 3-6). Komposisi nutrien KBK dibandingkan dengan rumput raja lebih unggul baik KBK segar maupun silase KBK (Tabel 1).

Tabel 1. Komposisi  nutrien KBK vs rumput raja berdasarkan bahan kering.

 

Uraian

BK

(%)

PK

(%)

Energi (Kkal/kg GE)

Abu

(%)

NDF

(%)

Rumput Raja

20,0

6,7

4082

13,3

67,1

KBK segar

19,0

7,5

3994

8,78

53,3

Silase KBK

22,1

9,2

4682

9,1

52,2

 Sumber: Puastuti et al. (2011).

Silase KBK mengandung theobromine sebesar 108,7 ppm jauh lebih rendah dibandingkan dengan tanpa disilase sebesar 3,5% (Puastuti et al., 2013). Pemberian silase KBK mampu menggantikan rumput hingga 100% (atau 50% BK total) di dalam ransum domba, kambing, sapi atau kerbau. Cara pemberian silase KBK dilakukan dengan cara membuka bungkus sesaat sebelum digunakan, dan sebagai cadangan pakan dapat disimpan sebagai stok pakan hingga >3 bulan dalam kondisi tetap kedap udara, kantong tetap tertutup tidak berlubang/bocor.

   

Sumber Bacaan:

Adamafio, N.A., F. Ayombil and K. Tano-Debrah.  2011. Microbial Detheobromination of cocoa (Theobroma cacao) pod husk. Asian J. Of Biochemistry. 6(2): 200-2007. 

Lateef, A., J.K. Oloke, E.B.G. Kana, S.O. Oyeniyi, O.R. Onifade, A.O. Oyeleye, O.C. Oladosu, A.O. Oyelami. 2008.  Improving the quality of agro-wastes by solid-state fermentation: Enhanced antioxidant activities and nutritional qualities. DIG World J. Microbiol. Biotechnol., DOI: 10.1007/s11274-008-9749-8.  pp. 2369-2374.

Saili, T., Marsetyo, D.P. Poppi, Isherwood, L. Nafiu, and S.P Quigley. 2010. Effect of treatment of cocoa pod with Aspergillus niger on liveweight gain and cocoa pod in take Bali (Bos Sondaicus) cattle in South East Sulawesi. Animal Production Science. 50: 693-698.

Rinduwati dan Ismartoyo, 2002, Karakteristik degradasi beberapa jenis pakan (in sacco) dalam rumen ternak kambing, Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak, 31: 1-14,

Puastuti, W. and Dwi Yulistiani. 2011. Utilization of  Urea and Fish Meal in Cocoa Pod Silage Based Rations to Increas the Growth of Ettawah Crossbreed Goats. Proceeding. The 2nd International Seminar Feed Safety for Healthy Food. Aini Publication Jatinangor, July 6-7, 2011. Jointly Published by Indonesian Association of Nutritional and Feed Science (AINI) and Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran. P. 463-469.

Puastuti, W., I.W. Mathius, IWR. Susana, D. Yulistiani dan Y. Widiawati, 2013. Peningkatan Efisiensi Ransum Berbasis produk Samping Kakao. Laporan Akhir Hasil Penelitian APBN TA. 2013. Balai Penelitian Ternak. Bogor 

 
ARTIKEL POPULER
PENGUNJUNG
Mouse Pengunjung Online: 19
  Pengunjung Hari Ini: 44
  Total Kunjungan: 223661