Logo

Direktorat Pakan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian Indonesia

 
LAHAN PASCA TAMBANG
Selasa, 06 Januari 2015
   

PROSPEK PEMANFAATAN LAHAN PASCA TAMBANG

UNTUK PENANAMAN HIJAUAN PAKAN TERNAK

 

Triastuti Andajani dan Ismail Mashudi

 


Dalam Pasal 33 UUD 1945 menyatakan bahwa “bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh Negara di pergunakan untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat”. Kekayaan yang terkandung di bumi Indonesia merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan kepentingan pembangunan nasional dengan memperhatikan kelestariannya.

Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumberdaya alam tersebut adalah kegiatan pertambangan yang merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian. Kegiatan pertambangan hingga saat ini merupakan salah satu sektor penyumbangan devisa negara yang terbesar.

Perkembangan teknologi pertambangan dan mekanisasi peralatan tambang telah menyebabkan skala pertambangan semakin besar. Ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang besar dan penting. Untuk itu, saat ini kegiatan pertambangan di Indonesia diarahkan pada konsep yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Tahapan kegiatan pertambangan pada umumnya adalah eksplorasi, ekstrasi dan pembuangan tailing (bahan hasil dari proses pengolahan bahan galian yang tidak mengandung nilai ekonomis lagi), pengolahan bijih dan operasional kegiatan, penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya, pembangunan infrastuktur, jalan akses dan sumber energi, pembangunan base camp dan pemukiman, serta terakhir penutupan tambang dan pengelolaan lahan pasca tambang berupa reklamasi dan revegetasi.

Lahan pasca tambang di Indonesia (tambang batubara dan timah) memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi pengembangan ekonomi masyarakat yang juga sekaligus untuk pelestarian lingkungan. Lahan ini harus dikembalikan kepada fungsi awalnya sebagai hutan lindung atau pada areal lain yang disebut sebagai APL (Area Penggunaan Lain) dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya, termasuk untuk usaha peternakan. Namun meskipun lahan pasca tambang ini memiliki potensi yang besar, apabila tidak dilakukan reklamasi dan revegetasi sebagaimana ketentuan, maka lahan tersebut sering menjadi tidak subur dan merubah landscape dibandingkan saat awal pelaksanaan eksplorasi. 

Pengusahaan lahan untuk penambangan batubara dan timah mengacu kepada UU nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta beberapa PP yaitu : (1) PP nomor 27 tahun 1999 tentang AMDAL; (2) PP nomor 82 tahun 2001 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan; (3) PP nomor 78 tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang.

Perusahaan tambang sebelum melakukan operasi, wajib melakukan analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang harus disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup.  Didalam isi dokumen AMDAL sudah harus disebutkan bagaimana perusahaan akan mengelola lahan pada waktu eksplorasi penambangan selesai dilakukan atau disebut dengan RPT (Rencana Penutupan Tambang).

Pada saat sudah dilakukan aktivitas penambangan, maka perusahaan tambang wajib melakukan penutupan lubang-lubang bekas galian tambang atau recounturing atau penataan tanah timbunan.  Kemudian setelah itu dilakukan penebaran kapur dan pupuk serta penebaran top soil sekitar 30-50 cm agar kondisi kesuburan lahan menjadi lebih baik (reklamasi) untuk kemudian dilakukan penanaman (revegetasi). Lahan pasca tambang yang tidak direklamasi, pada umumnya memiliki pH tanah sangat rendah (berkisar antara 3-5) karena banyak mengandung pirit dan logam berat yang apabila langsung ditanam rumput dan legum hijauan pakan ternak (HPT) dan dimakan ternak akan dapat mengganggu kesehatan dan reproduksi ternak. Oleh sebab itu, reklamasi wajib dilakukan sebelum lahan digunakan agar kondisi tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuhnya tanaman. Reklamasi dan pembenahan lahan yang baik, dapat mengembalikan fungsi tanah dan meningkatkan kelayakannya untuk budidaya HPT sebagai pakan ternak.

Untuk menjamin bahwa lahan yang di reklamasi mampu dimanfaatkan sebagai lahan sumber hijauan pakan untuk budidaya ternak dan berapa kapasitas tampung yang mampu tersedia diperlukan pengukuran potensi produksi, kualitas hijauan dan keamanannya. Langkah yang dilakukan adalah analisa fisik dan kimia tanah, kandungan logam tanah, jenis tanaman yang mampu tumbuh, produksi dan kandungan nutriennya, serta kandungan logam yang ada di tanaman tersebut.

Revegetasi awal biasanya berupa cover crops (tanaman penutup lahan) dapat berupa : 1). Rumput, seperti rumput Signal (Brachiaria decumbens), dan jenis Paspalum notatum (rumput bahia) dan vetiver zizonoides (rumput vetiver), karena kedua jenis rumput ini mempunyai kemampuan redemisi tanah yang tercemar oleh bahan beracun. 2). Jenis leguminosa, centro (Centrosema pubescents), puero (Pueraria javanica), kalopo (Calopogonium muconoides), orok-orok (Crotalaria juncea), kacang babi (Tephrosea vogeltii). Jenis-jenis leguminosa ini merupakan sumber bahan organik tanah yang berasal dari daun, ranting dan cabang, batang, buah dan akar yang mati. Selain itu, perakaran leguminosa dapat membangun mikoriza, yaitu suatu asosiasi antara akar dan fungi arbuskular yang dapat menyumbangkan P bagi tanaman. Ditinjau dari kepentingan peternakan, jenis-jenis tanaman ini menghasilkan bahan kering yang relatif tinggi serta nutrien yang baik, sehingga dapat meningkatkan kapasitas tampung ternak.

Kemudian setelah tanaman cover crops tumbuh dengan baik dan mampu meningkatkan kesuburan lahan, selanjutnya dapat ditanam tanaman keras yang bernilai ekonomi tinggi seperti akasia (Acacia mangium), meranti, sengon, trembesi dan johar atau tanaman agro-industri seperti kelapa sawit, kayu putih, jarak pagar atau HPT.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman cover crops tersebut diperlukan penambahan bahan organik ke dalam tanah. Pemanfaatan kotoran ternak hasil budidaya sapi potong sebagai sumber bahan organik merupakan solusi yang ditawarkan dengan adanya budidaya ternak di area pasca tambang. Harapannya  akan ada simbiosis (saling menguntungkan) di antara lahan pasca tambang sebagai sumber hijauan pakan ternak dan kotoran ternak sebagai sumber bahan organik.

Sebagai contoh pada beberapa perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur, kegiatan pasca tambang dari beberapa perusahaan sudah banyak dimanfaatkan untuk usaha peternakan sapi potong dan kambing/domba dengan cara melakukan reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang tersebut dengan penanaman HPT dan membangun padang penggembalaan. 

Untuk memperoleh model atau gambaran kegiatan di lahan pasca tambang, diperlukan SID (survei, identification dan design) yang kredibel, sehingga akan diperoleh suatu gambaran pengembangan kawasan yang terintegrasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan yang ada di kawasan lahan pasca tambang, baik penduduk di lahan pasca tambang (kelompok peternak) yang ada, dinas pertambangan, dinas yang membidangi peternakan dan perusahaan pelaku penambangan (melalui dana CSR).

Konsep pengembangan padang penggembalaan pada lokasi lahan pasca tambang merupakan model pengembangan yang cocok dilakukan dan sangat menguntungkan ekonomi masyarakat setempat. Padang penggembalaan selain memiliki fungsi sebagai sumber HPT bagi ternak ruminansia, juga berfungsi sebagai sarana pemeliharaan dan penanganan ternak, wahana pengembangan ekonomi masyarakat, sumber pelestarian sumberdaya genetik ternak wilayah dan memiliki nilai ekologis bagi lingkungan sekitarnya, wahana pembelajaran peternak dan keorganisasian kelompok ternak.

Pemanfaatan lahan pasca tambang sebagai lahan sumber hijauan untuk pakan ternak apabila dikembangkan serta dikelola dengan sebaik mungkin, hasilnya mampu menyediakan pakan secara optimal sepanjang waktu dan mampu meningkatkan produksi ternak, pada akhirnya cita-cita swasembada daging yang berkelanjutan sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan protein asal hewani dapat tercapai.

 
ARTIKEL POPULER
PENGUNJUNG
Mouse Pengunjung Online: 27
  Pengunjung Hari Ini: 52
  Total Kunjungan: 223669