Logo

Direktorat Pakan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian Indonesia

 
Konservasi Lahan Dengan Hijauan Pakan Ternak
Senin, 13 April 2015 Oleh Admin
    6041 dibaca

Lahan kritisKONSERVASI LAHAN DENGAN HIJAUAN PAKAN TERNAK

 

Keberadaan sumberdaya tanaman pakan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ternak dipengaruhi oleh unsur lingkungan, baik fisik maupun hayati. Ketersediaan lahan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam penyediaan hijauan pakan berupa rumput maupun legum. Namun, kondisi saat ini banyak lahan yang digunakan untuk perumahan maupun industri karena semakin bertambahnya penduduk. Usaha-usaha untuk mengoptimalkan lahan yang ada diantaranya dilakukan dengan mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan serta merehabilitasi lahan-lahan kritis. Masalah rehabilitasi berhubungan dengan pengolahan sumber daya alam. Kerusakan tanah dan mundurnya produktivitas tanah untuk lahan pertanian dan peternakan merupakan masalah yang serius yang menghambat usaha peningkatan produksi tanaman pangan dan tanaman pakan.

Kerusakan tanah di Indonesia terutama disebabkan oleh hilangnya lapisan-lapisan atas tanah oleh kekuatan aliran permukaan air hujan, yang juga menyebabkan dampak lanjutan seperti: banjir, pendangkalan saluran irigasi, dan kekeringan. Hal lain yang menyebabkan kerusakan tanah adalah tidak tepatnya pengelolaaan pupuk dan pestisida sintetis. Salah satu cara untuk rehabilitasi dan konservasi lahan adalah dengan melakukan usaha tani konservasi. Produksi tanaman pakan diintegrasikan dengan usaha tani konservasi. Oleh karena itu, perlu direncanakan pengelolaan sumber daya pakan yang mendukung upaya konservasi lahan.

Konservasi lahan adalah suatu cara penggunaan lahan atau tanah sesuai dengan kemampuannya, dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar lahan tidak rusak dan dapat dipergunakan serta dapat tetap produktif untuk waktu yang tidak terbatas. Penerapan konservasi lahan yang tepat merupakan kata kunci di dalam penerapan sistem usaha tani berkelanjutan. Beberapa metode dalam upaya konservasi lahan yakni dengan metode pendekatan secara vegetatif dan mekanik.

 

1. Metode Vegetatif

       Metode vegetatif adalah suatu cara pengelolaan lahan dengan menggunakan tanaman sebagai sarana konservasi lahan. Termasuk dalam metode ini diantaranya:

 

a. Penanaman rumput dan leguminosa sebagai penguat teras.

Selain untuk pakan ternak, rumput dan legum dapat mengurangi kecepatan dan daya rusak aliran permukaan (mencegah erosi), menambahkan bahan organik tanah, mencegah proses pencucian unsur hara, dan mengurangi fluktuasi temperatur tanah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman Brachiaria decumbens pada tanah latosol Gunasari menurunkan erosi dari 1,2 ton/ha menjadi 0,4 ton/ha, sementara rumput bahia (Paspalum notatum) yang ditanam pada tanah tropudults Sitiung menurunkan erosi dari 0,15 ton/ha menjadi nol, kombinasi setaria (Setaria sphacelata), Flemingia congesta dan gamal (Gliricidia maculata) mampu menurunkan erosi tanah dari 20,91 ton/ha menjadi 3,74 ton/ha dalam waktu sekitar satu tahun. Tampingan teras yang tidak ditanami rumput terjadi erosi tanah hingga 40-50 ton/ha/musim tanam, tetapi bila tampingannya ditanami rumput, erosi yang terjadi berkurang hingga 35-40%. Tanaman sorgum, baik sorgum manis maupun rumput hermada, mampu tumbuh pada kondisi panas dan kering sehingga akan tumbuh terus sampai musim hujan tiba dan siap menahan erosi tanah.

 

b. Sistem Tiga Strata (STS)

Konsep sistem tiga strata (STS) meliputi Strata I rumput serta legum, Strata II legum semak dan Strata III tanaman pagar. Selain berfungsi untuk penyediaan pakan ternak sepanjang tahun, erosi lahan yang menerapkan sistem ini 57% lebih rendah daripada tanpa tiga strata. Hal ini disebabkan karena perakaran yang kuat dan dalam dari strata 2 dan 3, daun rimbun dari strata 1, 2 dan 3 dapat menahan abrasi karena sinar matahari dan angin tidak merusak struktur tanah.

c. Penggunaan leguminosa sebagai tanaman penutup tanah

Tanaman penutup tanah merupakan tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman lain ataupun secara tunggal yang berfungsi menutup tanah sebelum tanah digunakan. Leguminosa menjalar antara lain Calopogonium sp., Pueraria sp., kudzu, siratro dan sebagainya dikenal sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan,khususnya karet dan kelapa sawit. Dilaporkan bahwa pengurangan laju erosi di areal yang menggunakan leguminosa penutup tanah bisa mencapai 97%.

 

2. Metode Mekanik

Metode mekanik adalah pembuatan bangunan-bangunan pencegahan erosi serta manipulasi mekanik tanah dan permukaan tanah. Fungsi metode ini adalah memperlambat aliran permukaan dan mengalirkannya dengan kecepatan yang tidak merusak, serta memperbesar kapasitas infiltrasi air.

a. Strip cropping (Pertanaman strip)

Strip cropping adalah rumput atau legum yang ditanam dalam strip searah kontur dengan lebar 0,5-1 m. Biasanya yang ditanam adalah rumput pakan ternak yang menghasilkan banyak hijauan dan berkualitas, namun persaingan dengan tanaman utama tidak begitu tinggi. Penanaman rumput Setaria dalam bentuk strip mampu mengurangi erosi tanah dari 67,29 ton/ha (tanpa strip) menjadi 34,08 ton/ha dalam waktu lima bulan.

b. Alley cropping (Pertanaman lorong)

 Alley cropping merupakan teknologi penanaman tanaman pangan semusim di antara lorong yang dibentuk oleh barisan pepohonan, biasanya leguminosa. Pangkasan daun leguminosa selain untuk pakan juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa (sisa-sisa daun untuk penutup tanah).

 

Permasalahan dalam Pengembangan Pakan sebagai Konservasi Lahan serta Upaya Pemecahannya

            Berdasarkan berbagai hasil penelitian, terlihat bahwa prospek konservasi lahan dengan menggunakan tanaman hijauan pakan ternak sangat bagus, namun di lapangan pemanfaatan tanaman pakan sebagai pengendali erosi belum begitu memasyarakat. Dengan demikian perlu dikaji masalah apa yang dihadapi di lapangan sehingga teknologi yang sudah diteliti selama lebih dari tiga dekade itu belum diterima masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah konservasi tanah biasanya hanya memperhatikan aspek pengurangan laju erosinya saja, belum (atau sedikit sekali) menyentuh aspek palatabilitas, sehingga tidak jarang spesies tanaman yang digunakan sebagai tanaman konservasi bukan tanaman pakan yang palatabel atau kualitasnya juga tidak begitu baik. Akibatnya peternak tidak begitu berminat untuk menanamnya karena beranggapan tidak banyak gunanya apabila hanya untuk tanaman konservasi tanah saja. Sebagai contoh antara lain digunakannya Flemingia congesta sebagai tanaman pencegah erosi di lahan berteras dan Mucuna bracteata sebagai tanaman penutup tanah diperkebunan. Ternyata sebagian besar peternak menyatakan bahwa tanaman tersebut tidak disukai ternak.

            Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan tanaman pakan sebagai tanaman konservasi antara lain:

  1. Meningkatkan sosialisasi secara intensif mengenai pentingnya menanam tanaman pakan, manfaat tanaman pakan untuk konservasi lahan, serta mengubah paradigma lama tentang hijauan pakan sebagai komoditas tradisional menjadi komoditas komersial.
  2. Menyesuaikan pengembangan keilmuan dan teknologi hijauan pakan berdasarkan kondisi ideal dan mendorong untuk terwujudnya kondisi yang layak bagi pengembangan tanaman pakan, bukan lagi menerima lahan yang tidak layak bagi pertumbuhan tanaman pakan. Pengembangan hijauan pakan di lahan yang layak dan subur telah banyak dilakukan oleh peternak di beberapa Kecamatan di Kabupaten Semarang seiring semakin meningkatnya “sadar pakan, sadar kualitas, sadar kontinuitas dan sadar manfaat” pada peternak.
  3. Memperkenalkan bisnis benih tanaman penutup tanah. Integrasi tanaman penutup tanah pada perkebunan mengalami kendala yaitu kurangnya bahan tanam (benih) berkualitas. Kebutuhan benih tanaman penutup tanah mencapai 1.600 ton per tahun yang nilainya tidak kurang dari 160 milyar rupiah. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa benih tanaman penutup tanah merupakan bisnis yang menjanjikan.
  4. Reposisi tanaman pakan dalam kurikulum Fakultas Peternakan. Fakultas Peternakan sebagai lembaga tinggi yang kompeten dalam pengembangan IPTEK bidang tanaman pakan perlu melakukan menyesuaikan dan memantapkan kurikulum yang menunjang kebutuhan lapangan akan aspek pengembangan sumber daya hijauan pakan dan upaya konservasi lahan.

 

Penulis :

Amalia Puji Rahayu, S.Pt.* dan Nur Heni, S.Pt, M.Si.**

 

  *  Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro, Semarang

**  Pengawas Mutu Pakan Pertama Kabupaten Semarang

 

 

 
ARTIKEL POPULER
PENGUNJUNG
Mouse Pengunjung Online: 16
  Pengunjung Hari Ini: 41
  Total Kunjungan: 223658