Logo

Direktorat Pakan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian Indonesia

 
Hormon
Senin, 15 Desember 2014
   

PELARANGAN PENGGUNAAN

HORMON TERTENTUDAN/ATAU ANTIBIOTIK

SEBAGAI IMBUHAN PAKAN

 


Drh. Endah Widiastuti dan Usman Ali

 

Dalam rangka menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, agar produk Indonesia bisa bersaing termasuk di bidang peternakan khususnya pakan ternak, maka diperlukan penyediaan pakan yang bermutu dan aman baik untuk ternak, manusia dan lingkungan.

Jumlah industri pakan di Indonesia (2014) untuk skala menengah sampai besar adalah 68 feed mill yang tersebar di 11 Provinsi. Dengan total produksi 15,2 juta ton, yang penggunaanya untuk 89-90% sebagai pakan unggas, 6% Aqua Culture, babi 2%, ruminansia 1% dan 1% untuk ternak lainnya.

Namun belum semua pakan yang diproduksi telah sesuai standar mutu dan keamanan pakan seperti yang dipersyaratkan dalam Persyaratan Teknis Minimal (PTM)/Standar Nasional Indonesia (SNI), hal ini disebabkan karena belum semua pakan yang beredar telah terdaftar di Kementan.

Dalam pembuatan pakan, selain harus mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap dan berimbang, agar hasilnya lebih optimal biasanya pembuat pakan/pabrik pakan akan mencampurkan imbuhan pakan (feed additives) dan/atau pelengkap pakan (feed supplement) ke dalam pakan yang diproduksi.

Mengingat akhir-akhir ini telah ditemukan adanya residu antibiotik pada produk ternak meskipun belum jelas bahwa residu tersebut akibat dari pakan yang mengandung antibiotik atau akibat tindakan terapi/pengobatan dari suatu penyakit hewan.

Untuk menjamin keamanan pakan (feed safety), selain diperlukan adanya pengawasan yang intensif mulai dari bahan pakan sampai pakan yang beredar, terutama di dalam penggunaan imbuhan pakan (feed additive) dan pelengkap pakan (feed supplement) sebagai campuran pakan, diperlukan juga adanya peraturan terkait syarat penggunaan imbuhan dan pelengkap pakan seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 22:

  • Ayat (4) huruf c bahwa: Setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan. (Di dalam penjelasan, yang dimaksud dengan hormon tertentu adalah hormon sintetik dan yang dimaksud dengan antibiotik antara lain adalah chloramphenicol dan tetracyclin). Menurut ahli hukum disimpulkan, bahwa antibiotik dilarang digunakan sebagai imbuhan pakan.
  • Ayat (5) : Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Mengingat di dalam BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 87 disebutkan bahwa : Setiap orang yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 Ayat (4) dipidana dengan kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 9 (sembilan) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 75 juta,- dan paling banyak Rp. 750 juta,-. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal penyalahgunaan di dalam penggunaan imbuhan pakan adalah termasuk masalah yang serius.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka Direktorat Pakan Ternak menyusun Permentan tentang “Pelarangan Penggunaan Hormon Tertentu dan/atau Antibiotik sebagai Imbuhan Pakan” sehingga bisa digunakan/diaplikasikan sebagai acuan oleh pihak terkait terutama di lapangan.

           Namun sebagian para ahli berpendapat bahwa Indonesia belum waktunya melarang antibiotik sebagai imbuhan pakan, mengingat cara pemeliharaan ternak di Indonesia masih bersistim open house (belum intensif 100%) dan beriklim tropis, sehingga kuman belum bisa dikendalikan hanya melalui pengobatan saja, akan tetapi perlu dibantu dengan pemberian antibiotik imbuhan pakan sebagai tindakan preventif (pencegahan).

           Selama ini sesuai Surat Edaran Dirjen No. TN.260/1994, antibiotik yang diizinkan sebagai imbuhan pakan adalah: 1) Avilamisin; 2) Avoparsin; 3) Envamisin; 4) Flavomisin; 5) Higromisin; 6) Kitasamisin; 7) Kolistin sulfat; 8) Lasalosid; 9) Linkomisin; 10) Maduramisin; 11) Monensin; 12) Narasin; 13) Nastatin; 14) Salinomisin; 15) Spiramisin; 16) Tiamulin; 17) Tilosin; 18) Virginiamisin; 19) Zink Basitrasin. Sedangkan antibakteri yang diijinkan sebagai imbuhan pakan adalah: 1) Aklomide; 2) Amprolium; 3) Butynorate; 4) Klopidol; 5) Decoquinate; 6) Ethopabate; 7) Furazolidon (SE No. TN.260/96); 8) Halquinol; 9) Nitrofurazon (SE No. TN.260/96); 10) Olaquindoks; 11) Sulfanitran.

            Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas Direktorat Kesehatan Hewan bersama Komisi Ahli Obat Hewan (KOH) menyelenggarakan pertemuan membahas pelarangan penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan, melalui diskusi yang cukup alot, pada pertemuan terakhir tanggal 3 November 2014 menghasilkan saran dan rekomendasi sebagai berikut:

  • Antibiotik dalam pakan sebagai pemacu pertumbuhan yang masih diperbolehkan adalah : 1. Enramisin, 2. Basitrasin, 3. Flavomisin, 4. Virginiamisin, 5. Avilamisin.
  • Sedangkan Antibiotik yang berfungsi sebagai koksidiostat adalah: 1. Monensin, 2. Maduramisin, 3. Semduramisin, 4. Narasin, 5. Salinomisin, 6. Lasalosid.
  • Bahwa sebelum antibiotik dilarang sama sekali sebagai imbuhan pakan, secara bertahap jumlah antibiotik semakin berkurang jumlahnya sehingga sampai 2 (dua) tahun ke depan akan dilarang sama sekali penggunaannya.

Menurut para ahli untuk mengantisipasi dilarangnya penggunaan antibiotik, sebaiknya mulai sekarang agar dipersiapkan alternatif lain yang akan digunakan sebagai pengganti antibiotik dan diharapkan pengganti antibiotik tersebut akan lebih mudah diperoleh, mudah diaplikasikan dan harganya pun dapat bersaing dibanding sebelumnya. Tentunya juga tidak menyebabkan terjadinya residu dan efek samping yang merugikan.

Jika memang akhirnya antibiotik dilarang digunakan sebagai imbuhan pakan, apabila ada yang melanggar agar dikenakan/diterapkan adanya sanksi yang berefek jera.

 
ARTIKEL POPULER
PENGUNJUNG
Mouse Pengunjung Online: 24
  Pengunjung Hari Ini: 49
  Total Kunjungan: 223666